Showing posts with label Puisi bukan Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi bukan Puisi. Show all posts

Wednesday, 8 February 2012

Tuan Seketika


Seketika ia hadir
Seketika ia mampir
Seketika, ia pun pergi

Mengapa?
Tak ada yang menjawab.

Tuesday, 24 January 2012

Monday, 23 January 2012

Luka Tercuka..

Beliau
Renta (tak) menua, (masih)melesap anggun dalam pikir-pikir rapuh tentang hari lalu itu

Sementara aku,
Berdiam hendak terhenti, menoleh, (masih) berharap, kira-kira ia memanggil..

Lantas,
Kami tak berpapas, dalam sayup-sayup rintih selintas angin kemarin sore,


"Kau masih di sana?", tanyamu

"Ya, aku masih di sini", jawabku

"Untuk apa?", tanyamu lagi

Aku terdiam

"Untuk apa?"

Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.
Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.
Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.


5 tahun setelahnya,
Kuberikan selembar kertas dengan tulisan “(b) A P A (k) ?”


8 tahun setelahnya,
Kuselipkan selembar kertas dengan tulisan “ANAK (b) A P A (k) ?”


10 tahun setelahnya,
Kukirimkan selembar kertas dengan tulisan “ A K U ?”


12 tahun setelahnya,
Kusimpan selembar kertas dengan tulisan “(s) (i) A P A ?”





Kamu masih di sana.
Mata memerah, jantung berdetak kencang.
Aku terdiam.

Kubuka luka itu perlahan, sedang dalam penantianku, kamu terus berlalu sembari memberi cuka dalam sendi-sendi jiwa lukaku, yang belum sempuh, tak jua sembuh.

Matamu memerah, jantungmu berdetak kencang, mungkin kamu takut, mungkin kamu malu, mungkin kamu....... mungkin.

Aku terdiam,
Masih di sini, menunggu, berharap,
Walau lukaku tercuka, walau lukaku kian terbuka karenamu, karena diammu.


Matamu memerah, kamu menangis.




-meranitalentsa23/01/12

Rinduku Bisu..

Senja yang menuntunku singgah dalam jeruji jingga.
Hingga membuatku terperangkap dalam indahnya malam terpaut rindu, bersama bisu.



Bersama rindu, aku membisu.
Perlahan membisik pilu.
Kamu.
Bisu.
Aku.
Rindu.
Terpaut dalam sebilah kisah tentang kasih.


-meranitalentsa21/01/12

Friday, 20 January 2012

Sekelumit Rasa..

Malam kian merapat. Senja tak jua memberi. Lantas semburat kelabu semu, hadir kembali.
Menemani? Tidak. 
Membayangi. 
Perlahan. 
Menusuk. 
Mati.


Sementara, pagi terus ada dan berganti.
Maka senja dan malam, hanya alur baginya.
Pelengkap cerita dalam hari.
Bertautan? Tidak.
Lalu?


Singgah. Ya. Hanya dalam persinggahan waktu mereka bertemu.
Menepikan diri.
Pagi menuju senja menuju malam menuju pagi.
Labirin waktu ini, memuntahkanku.


Aku keluar ya.
Labirin ini membuat kepalaku berdenyut keras sekali.
Aduh!
Pun sementara kakiku masih ingin menjelajah, ketika naluriku hampir membeku.



Dan sesegera mungkin, aku ingin meninggalkan malam ini.


Maka, labirin itu menjadi saksi bisu atas inginku.
Senja.
Senja.
Berakhir malam.
Senandungku~


Hingga pagi tak lagi bersenja ataupun bermalam.

Pagi.
Menjadi bisu.
Dengan labirin waktu yang perlahan sembilu.



-meranitalentsa09/02/11




(mungkin) Salah..

Ada yang tertanggal hingga membekas,
ada yang terlupa, namun entah mengapa membekas..

Lalu hadir kenangan yang mengingat tanggal yang membekas,
dan kenangan yang ternyata (sengaja) dilupa tapi (masih) membekas..

Lantas salah bila kenangan yang berbekas itu coba untuk ditinggalkan?

Mungkin segelintir hendak meninggalkan yang berbekas, namun yang berbekas tak hendak meninggalkan..

Lantas kenangan, memori selalu disalahkan..

Salah..




-meranitalentsa20/01/12