Tuesday, 24 January 2012

Monday, 23 January 2012

Luka Tercuka..

Beliau
Renta (tak) menua, (masih)melesap anggun dalam pikir-pikir rapuh tentang hari lalu itu

Sementara aku,
Berdiam hendak terhenti, menoleh, (masih) berharap, kira-kira ia memanggil..

Lantas,
Kami tak berpapas, dalam sayup-sayup rintih selintas angin kemarin sore,


"Kau masih di sana?", tanyamu

"Ya, aku masih di sini", jawabku

"Untuk apa?", tanyamu lagi

Aku terdiam

"Untuk apa?"

Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.
Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.
Aku terdiam.
Matanya memerah, jantungnya berdetak kencang.


5 tahun setelahnya,
Kuberikan selembar kertas dengan tulisan “(b) A P A (k) ?”


8 tahun setelahnya,
Kuselipkan selembar kertas dengan tulisan “ANAK (b) A P A (k) ?”


10 tahun setelahnya,
Kukirimkan selembar kertas dengan tulisan “ A K U ?”


12 tahun setelahnya,
Kusimpan selembar kertas dengan tulisan “(s) (i) A P A ?”





Kamu masih di sana.
Mata memerah, jantung berdetak kencang.
Aku terdiam.

Kubuka luka itu perlahan, sedang dalam penantianku, kamu terus berlalu sembari memberi cuka dalam sendi-sendi jiwa lukaku, yang belum sempuh, tak jua sembuh.

Matamu memerah, jantungmu berdetak kencang, mungkin kamu takut, mungkin kamu malu, mungkin kamu....... mungkin.

Aku terdiam,
Masih di sini, menunggu, berharap,
Walau lukaku tercuka, walau lukaku kian terbuka karenamu, karena diammu.


Matamu memerah, kamu menangis.




-meranitalentsa23/01/12

Rinduku Bisu..

Senja yang menuntunku singgah dalam jeruji jingga.
Hingga membuatku terperangkap dalam indahnya malam terpaut rindu, bersama bisu.



Bersama rindu, aku membisu.
Perlahan membisik pilu.
Kamu.
Bisu.
Aku.
Rindu.
Terpaut dalam sebilah kisah tentang kasih.


-meranitalentsa21/01/12

Friday, 20 January 2012

Sekelumit Rasa..

Malam kian merapat. Senja tak jua memberi. Lantas semburat kelabu semu, hadir kembali.
Menemani? Tidak. 
Membayangi. 
Perlahan. 
Menusuk. 
Mati.


Sementara, pagi terus ada dan berganti.
Maka senja dan malam, hanya alur baginya.
Pelengkap cerita dalam hari.
Bertautan? Tidak.
Lalu?


Singgah. Ya. Hanya dalam persinggahan waktu mereka bertemu.
Menepikan diri.
Pagi menuju senja menuju malam menuju pagi.
Labirin waktu ini, memuntahkanku.


Aku keluar ya.
Labirin ini membuat kepalaku berdenyut keras sekali.
Aduh!
Pun sementara kakiku masih ingin menjelajah, ketika naluriku hampir membeku.



Dan sesegera mungkin, aku ingin meninggalkan malam ini.


Maka, labirin itu menjadi saksi bisu atas inginku.
Senja.
Senja.
Berakhir malam.
Senandungku~


Hingga pagi tak lagi bersenja ataupun bermalam.

Pagi.
Menjadi bisu.
Dengan labirin waktu yang perlahan sembilu.



-meranitalentsa09/02/11




KUTIPAN..

Dalam sibuk kita tenggelam di kata-kata. Harap dan asa.

"Jangan pernah bertanya, rasakan saja...."



 Aku tak pernah mengatakan padamu bagaimana aku padamu, hanya saja banyak orang yang paham bagaimana aku padamu. Maka, bukankah itu keterlaluan jika kamu bahkan tidak tahu bagaimana aku padamu? 

Hei, kalau kau butuh perkataan jelas dariku, kaupun perlu menunjukkan bagaimana kamu padaku.  Sebaliknya, kamu hanya selalu mengatakan bagaimana kamu padaku, namun sayang aku tak pernah merasakan kesungguhanmu atas bagaimananya dirimu padaku.

Kapan kau akan bersikap dan menunjukkan bagaimana kamu padaku?
Tak usah bicara, tunjukkan saja.
Bila memang tak mau, baik, hentikan saja, aku sudah terlanjur muak dengan ketidakjelasan ini, aku muak terpaut dengan hal yang itu-itu saja.
Kalau memang mau hentikan langkah ini, hentikan saja. Aku sudah muak, hingga tak tahu harus berbuat apa lagi.

Ada pertanda yang menandakan tanda dalam suatu siasat-tanda.


Aku menitip pesan pada seorang anak kecil sore ini, aku berkata: “Dik, maukah kamu menanti hujan selagi matahari bersinar begitu terik?”,
Lantas ia menjawab: “Tidak ka, lagipula untuk apa menunggu hujan ka, aku sudah cukup senang dengan matahari yang bersinar terik ini”.

 -meranitalentsa12/01/11

(mungkin) Salah..

Ada yang tertanggal hingga membekas,
ada yang terlupa, namun entah mengapa membekas..

Lalu hadir kenangan yang mengingat tanggal yang membekas,
dan kenangan yang ternyata (sengaja) dilupa tapi (masih) membekas..

Lantas salah bila kenangan yang berbekas itu coba untuk ditinggalkan?

Mungkin segelintir hendak meninggalkan yang berbekas, namun yang berbekas tak hendak meninggalkan..

Lantas kenangan, memori selalu disalahkan..

Salah..




-meranitalentsa20/01/12